Jumat, 27 Juni 2025

Warga Padati Bawang Merah Brebes Fest 2025 Sejak Siang Hari

BREBES – Ratusan warga tampak antusias menghadiri acara Bawang Merah Brebes Fest 2025 yang digelar di Alun-alun Brebes, Jumat (27/6/2025). Meski acara resmi dibuka sore hari, warga sudah mulai berdatangan sejak siang. Festival ini menghadirkan berbagai kegiatan menarik, mulai dari stand UMKM dan kuliner, hingga hiburan musik dari penyanyi ternama seperti Ungu, Pongki Barata, D'Bagindas, dan Ndarboy. Tidak hanya menikmati hiburan, beberapa pengunjung juga memanfaatkan festival ini untuk melihat pameran produk pertanian, termasuk pupuk dan kebutuhan tanaman bawang merah. Warga menyambut positif acara ini karena tidak hanya menghibur, tapi juga memberi ruang bagi pelaku usaha lokal dan petani untuk promosi serta bertukar informasi langsung dengan produsen. Bawang Merah Brebes Fest menjadi bukti bahwa kegiatan yang menggabungkan hiburan dan ekonomi kerakyatan tetap diminati masyarakat.

Sirkuit Mijen Semarang Kotor dan Tak Terawat, Warga Minta Diperhatikan

 

SEMARANG – Sirkuit Mijen, salah satu fasilitas olahraga di Kota Semarang, kini kondisinya memprihatinkan. Area seluas 5,1 km itu terlihat kotor, banyak sampah berserakan, rumput liar tumbuh tinggi, dan beberapa bagian aspal mulai rusak. Warga yang sering berolahraga di sana, seperti jogging dan bersepeda, mengeluhkan minimnya perawatan. Tribun penonton rusak, lampu penerangan banyak yang mati, dan ban-ban bekas dibiarkan berserakan. Padahal, sirkuit ini sering dipakai untuk berbagai event nasional dan kegiatan masyarakat. Warga berharap pemerintah, khususnya Dispora Kota Semarang, bisa lebih serius merawat fasilitas ini. Sirkuit Mijen terletak di Jl. Raya Semarang–Boja, Kecamatan Mijen. Untuk menggunakan area ini, warga dikenakan biaya sewa, seperti latihan motor Rp50.000 per jam, atau Rp10.000 untuk kegiatan harian.

PPDB SMP di Rembang Dibuka, Sekolah Favorit Langsung Penuh Sejak Hari Pertama

 

REMBANG – Pendaftaran peserta didik baru (PPDB) untuk SMP negeri di Kabupaten Rembang dimulai pada Senin, 23 Juni 2025. Sejak hari pertama, pendaftar langsung membludak, terutama di sekolah-sekolah favorit seperti SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Rembang. Saking banyaknya pendaftar, kuota di beberapa sekolah langsung penuh hanya dalam beberapa jam. Contohnya, SMP Negeri 2 Rembang hanya menyediakan 288 kursi, tapi yang mendaftar sudah lebih dari 300 siswa di hari pertama. Pihak Dinas Pendidikan Rembang menjelaskan, meski sistem zonasi sudah berlaku, orang tua tetap cenderung memilih sekolah yang dianggap unggulan. Hal ini membuat pendaftar menumpuk di sekolah-sekolah tertentu, sementara sekolah lain masih memiliki banyak kursi kosong.

PPDB SMP ini berlangsung hingga Rabu, 25 Juni 2025. Bagi siswa yang belum mendapatkan sekolah, masih ada kemungkinan untuk diterima lewat jalur zonasi tambahan, atau penambahan kelas di beberapa sekolah. Pemerintah daerah juga sedang mempertimbangkan memperpanjang masa pendaftaran, terutama untuk mengakomodasi siswa yang belum tertampung di sekolah negeri.

Tanggul Laut Cegah Rob di Demak Mulai Dibangun Oktober 2025

 

DEMAK – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana membangun tanggul laut (Hybrid Sea Wall) di pesisir Kabupaten Demak untuk mengatasi banjir rob. Proyek ini ditargetkan mulai dikerjakan pada Oktober 2025. Sebelum pembangunan dimulai, tahap persiapan seperti penyusunan desain, pengukuran lokasi, dan perizinan akan dilakukan pada Juli hingga September 2025. Tanggul ini akan dibangun dengan konsep Hybrid Sea Wall, yaitu gabungan antara struktur beton ringan dan tanaman mangrove. Beton berfungsi menahan gelombang laut, sedangkan mangrove membantu mencegah abrasi secara alami.

Proyek ini akan membentang sepanjang 20 hingga 30 kilometer, dari wilayah pesisir Sayung, Demak hingga sebagian Jepara. Pemerintah pusat mengalokasikan dana sekitar Rp 1,7 triliun untuk pembangunan ini. Teknologi tanggul hybrid ini sebenarnya sudah diuji sejak tahun 2012 oleh tim peneliti dari Universitas Diponegoro (Undip) di wilayah Timbulsloko, Demak. Hasilnya dinilai efektif dan ramah lingkungan. Pemerintah berharap pembangunan tanggul ini bisa mengurangi risiko banjir rob yang selama ini merusak permukiman dan lahan pertanian warga pesisir. Jika berjalan lancar, proyek ini ditargetkan selesai pada awal 2026.

Jejak Sejarah di Balik Banyaknya Kuliner Nonhalal di Solo


SOLO – Kota Solo dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner di Jawa Tengah yang menawarkan berbagai jenis makanan. Tidak hanya makanan tradisional yang halal, tapi juga kuliner nonhalal seperti sate babi, tongseng babi, hingga sate jamu berbahan daging anjing. Ternyata, keberadaan makanan nonhalal di Solo bukan hal baru. Sejak abad ke-18 hingga ke-19, masyarakat keturunan Tionghoa sudah menetap di sekitar Pasar Gede Solo. Mereka membawa resep-resep keluarga yang menjadi bagian dari kebiasaan makan sehari-hari.

Seiring waktu, terutama setelah era reformasi dan kebebasan budaya Tionghoa didukung secara terbuka, kuliner khas Tionghoa nonhalal mulai berkembang pesat di Solo. Awalnya, makanan ini hanya disajikan di lingkungan keluarga atau komunitas tertentu, tapi lambat laun semakin dikenal dan digemari masyarakat umum. Selain dari etnis Tionghoa, para perantau dari kota lain seperti Semarang juga ikut memperkaya ragam makanan di Solo, termasuk sajian nonhalal. Permintaan terhadap makanan jenis ini pun meningkat, hingga kini banyak dijual di warung, restoran, bahkan dijadikan produk wisata kuliner.

Kehadiran makanan nonhalal di Solo menunjukkan bahwa kota ini menjadi tempat bercampurnya banyak budaya, termasuk dalam hal makanan. Pengaruh Jawa, Tionghoa, hingga Eropa menciptakan variasi rasa dan jenis kuliner yang unik. Namun begitu, keberagaman ini juga membawa tantangan, terutama soal transparansi bahan makanan. Beberapa waktu lalu, muncul sorotan terhadap tempat makan yang tidak memberikan label halal secara jelas. Hal ini membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih makanan dan mendorong pelaku usaha kuliner untuk lebih terbuka soal bahan yang digunakan. Kini, selain dikenal dengan batik dan budaya, Solo juga diingat sebagai kota dengan kuliner beragam, baik halal maupun nonhalal, yang semuanya memiliki akar sejarah panjang.

241 Siswa SD Meriahkan FLS3N Kecamatan Kota Kudus

 

KUDUS – Festival dan Lomba Seni Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kecamatan Kota Kudus berlangsung meriah pada Selasa, 24 Juni 2025, di SMP Negeri 1 Kudus. Kegiatan ini diikuti 241 siswa SD dari seluruh sekolah se-Kecamatan Kota. Tujuh cabang lomba dipertandingkan, yaitu menyanyi solo, tari tradisional, pantomim, mendongeng, menulis cerita, gambar kreasi, dan kriya. Cabang menyanyi solo menjadi yang paling banyak diminati, diikuti oleh 35 peserta. Sementara itu, lomba tari diikuti oleh 22 grup siswa.

Seluruh sekolah ikut berpartisipasi dengan mengirimkan siswa sesuai dengan potensi terbaik yang dimiliki. Tahun ini, jumlah peserta meningkat berkat dukungan dari Disdikpora Kabupaten Kudus, yang menyediakan perlengkapan lomba dan konsumsi peserta. FLS3N menjadi ajang pengembangan bakat sekaligus membangun semangat berkarya di bidang seni dan sastra sejak usia dini.

Warga Pekuncen Kendal Gelar Merti Desa, Pusaka Pangeran Benowo Diarak Keliling Kampung

 



Kendal – Warga Desa Pekuncen, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, menggelar tradisi tahunan Merti Desa pada Rabu (26/6/2025). Acara ini menjadi momen penting bagi warga untuk bersyukur atas hasil panen dan memohon keselamatan desa. Yang paling menarik, warga mengarak pusaka peninggalan Pangeran Benowo yang usianya diperkirakan sudah lebih dari 450 tahun. Pusaka ini berupa mustaka (hiasan atap masjid) dari Masjid Jami’ Sunan Abinawa yang dianggap keramat dan penuh sejarah. Sebelum diarak, pusaka lebih dulu dijamas (dimandikan) pada malam hari oleh para sesepuh desa. Keesokan paginya, pusaka dibungkus kain putih lalu diarak keliling kampung bersama 21 gunungan hasil bumi seperti buah, sayur, jajanan pasar, dan barang simbolis lainnya.

Warga, pelajar, kelompok seni, hingga perangkat desa ikut meramaikan kirab. Mereka memakai pakaian adat dan berjalan beriringan dengan musik tradisional. Suasana meriah dan penuh semangat terasa sejak pagi. Merti Desa ini jadi bukti bahwa warga Pekuncen masih menjaga warisan budaya dan sejarah desa mereka. Warga berharap acara seperti ini bisa terus dilestarikan dan dikenal lebih luas sebagai wisata budaya Kendal.

Ribuan Peserta Meriahkan Olahraga Bareng Polda Jateng Sambut Hari Bhayangkara ke-79

Semarang – Ribuan warga antusias mengikuti kegiatan olahraga bersama yang digelar oleh Polda Jawa Tengah pada Senin pagi, 24 Juni 2025, dalam rangka menyambut peringatan Hari Bhayangkara ke-79. Acara yang digelar di halaman Mapolda Jateng, Jalan Pahlawan, Semarang, ini dimeriahkan oleh berbagai kalangan mulai dari personel Polri, TNI, ASN, pelajar, komunitas, hingga masyarakat umum. Ragam kegiatan seperti senam massal, jalan sehat, hingga sepeda santai (fun bike) menjadi daya tarik utama.

Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi secara langsung membuka kegiatan tersebut. Ia menyampaikan bahwa olahraga bersama ini bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai bentuk nyata sinergi antara Polri dan masyarakat dalam menciptakan kehidupan yang sehat dan harmonis. Tak hanya berolahraga, peserta juga disuguhi hiburan rakyat, bazar UMKM, pemeriksaan kesehatan gratis, serta berbagai hadiah doorprize menarik seperti sepeda, alat elektronik, hingga paket sembako. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian menuju Hari Bhayangkara 1 Juli 2025, yang akan diperingati secara serentak di seluruh Indonesia.

 

Kasus Ayam Goreng Widuran Solo, Polisi: Belum Termasuk Tindak Pidana

 

Solo – Kasus rumah makan Ayam Goreng Widuran di Solo yang sempat viral karena dituding menggunakan minyak non-halal kini mendapat penjelasan dari pihak kepolisian. Menurut pihak Polresta Solo, aduan tersebut belum masuk ranah pidana karena rumah makan itu tidak mencantumkan label halal dalam produk atau tempat usahanya. Artinya, secara hukum, mereka tidak melanggar aturan pidana, tapi bisa dikenai sanksi administratif. Aturan yang mengatur soal kehalalan makanan termasuk dalam UU Jaminan Produk Halal (UU JPH). Dalam undang-undang ini, pelanggaran yang terjadi seperti penggunaan bahan non-halal akan dikenai teguran atau denda, bukan langsung dijerat hukum pidana.

Sebelumnya, kasus ini mencuat setelah laporan dari warga dan anggota DPRD Solo. Pemerintah Kota Solo juga sudah bertindak cepat dengan menutup sementara warung tersebut dan meminta pihak rumah makan untuk mencantumkan label “non-halal” secara jelas. Kini, Ayam Goreng Widuran sudah kembali buka dan telah memasang tanda “non-halal” seperti yang diminta pemerintah.

Korupsi Dana Desa Hampir Rp 398 Juta, Kades di Grobogan Resmi Ditahan

 

Grobogan – Kejaksaan Negeri (Kejari) Grobogan menahan Kepala Desa Cangkring, Kecamatan Tegowanu, atas dugaan korupsi dana desa yang nilainya mencapai hampir Rp 398 juta. Penahanan dilakukan setelah penyidik menemukan cukup bukti terkait penyimpangan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun anggaran 2019 hingga 2024.

Tersangka diduga memanfaatkan jabatannya untuk melakukan penyimpangan dalam penggunaan dana desa, termasuk membuat laporan fiktif dan pencairan dana yang tidak sesuai peruntukannya. Total kerugian negara akibat tindakan ini mencapai Rp 397.944.870. Meski tersangka telah mengembalikan sebagian dana yang diselewengkan, yakni sebesar Rp 349.145.000, proses hukum tetap berjalan. Ia kini ditahan di Lapas Kelas IIB Purwodadi untuk menjalani proses penyidikan lanjutan.

Kejari Grobogan menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap pelaku korupsi dana desa akan terus dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap hak masyarakat. Dana desa seharusnya digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan warga, bukan untuk kepentingan pribadi. Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bagi kepala desa lainnya agar lebih transparan dan akuntabel dalam mengelola anggaran.

Kamis, 26 Juni 2025

Tak Hanya Jumat, Warung Soto di Semarang Ini Gratiskan Makanan Setiap Hari Selasa

 

Semarang – Di tengah hiruk-pikuk kota dan naiknya harga kebutuhan pokok, sebuah warung soto di Semarang justru memilih jalan berbeda. Warung sederhana bernama Soto Ayam Silayur Gratis, yang terletak di Jalan Raya Boja-Semarang KM 11, Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, rutin membagikan soto secara gratis setiap hari Selasa pagi. Tradisi berbagi ini dimulai oleh pemilik warung, Haritsah, sejak tahun 2022. Uniknya, ia sengaja memilih hari Selasa karena menurutnya, sedekah dan kegiatan sosial umumnya hanya ramai pada hari Jumat. “Kalau Jumat sudah banyak yang berbagi. Saya pilih Selasa agar kebaikan juga bisa dirasakan di hari-hari lain,” ujarnya dalam wawancara yang dikutip oleh media setempat.

Setiap Selasa, warung ini mampu menyajikan hingga 300 porsi soto ayam gratis. Tidak ada syarat khusus untuk menikmati sajian ini, siapa saja yang datang akan dilayani dengan ramah, baik mereka warga sekitar, pekerja, maupun pengendara yang kebetulan lewat. Kegiatan ini pun mendapat dukungan banyak pihak. Beberapa pelanggan bahkan ikut menitipkan rezeki mereka agar warung ini bisa terus berjalan dan memberi manfaat luas. Meskipun berbagi secara gratis, kualitas soto tetap dijaga. Cita rasa khas Jawa dengan kuah bening dan suwiran ayam kampung jadi andalan. Tradisi sederhana ini jadi pengingat bahwa kepedulian sosial bisa dilakukan kapan saja, tak harus menunggu momen atau hari tertentu.

Mengapa Ribuan Warga Semarang ‘Keramas’ di Sungai Tiap Malam Satu Suro? Ini 5 Tradisi yang Masih Dilestarikan

 

Semarang – Malam 1 Suro atau 1 Muharram dalam penanggalan Jawa selalu menjadi momen sakral bagi masyarakat Jawa, termasuk warga Semarang. Salah satu tradisi unik yang masih dipertahankan hingga kini adalah ritual "keramas massal" di sungai atau sumber mata air pada malam Satu Suro. Ritual ini bukan sekadar membasuh rambut, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam. Masyarakat meyakini bahwa mandi dan keramas di malam Satu Suro dapat membersihkan diri dari energi buruk serta menjadi bentuk penyucian diri menyambut tahun baru Jawa.

Berikut 5 tradisi Malam Satu Suro yang masih dilestarikan oleh warga Semarang dan sekitarnya:

1. Keramas dan Mandi Suci di Sungai

Ribuan warga mendatangi sungai atau sendang pada malam hari untuk melakukan mandi dan keramas secara spiritual. Biasanya mereka membawa air bunga, berdoa, lalu membasuh kepala dan tubuh sebagai simbol pembersihan diri.

2. Tirakat dan Lelaku

Banyak warga melakukan tirakat berupa puasa mutih, tapa bisu, atau mengasingkan diri dari keramaian. Tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Tuhan dan memohon keselamatan selama satu tahun ke depan.

3. Tapa Bisu di Kota Lama

Di sejumlah titik seperti Kota Lama atau tempat bersejarah lainnya, masih ada komunitas atau kelompok spiritual yang melakukan tapa bisu—berjalan kaki tanpa berbicara sepanjang malam sebagai bentuk perenungan diri.

4. Kenduri dan Doa Bersama

Di kampung-kampung, masyarakat menggelar doa bersama dan kenduri untuk mendoakan leluhur dan memohon keberkahan. Makanan tradisional seperti tumpeng, jenang abang-putih, dan bubur suro biasanya disajikan.

5. Ziarah ke Makam Leluhur

Warga juga melakukan ziarah ke makam orang tua atau tokoh yang dihormati, sebagai bentuk penghormatan sekaligus refleksi diri terhadap nilai-nilai hidup yang diwariskan.

Tradisi-tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal dan spiritualitas masyarakat Jawa masih kuat meski zaman terus berubah. Malam Satu Suro bukan sekadar perayaan, tapi momentum untuk menata batin, menyucikan niat, dan menyambut harapan baru.

Penuhi Syarat Manajemen, PSIS Semarang Segera Umumkan Pelatih Baru

Semarang – PSIS Semarang dikabarkan telah mengantongi nama pelatih anyar untuk menakhodai tim di musim kompetisi mendatang. Pelatih tersebut disebut-sebut telah memenuhi seluruh kriteria yang ditetapkan manajemen, baik dari segi pengalaman, filosofi bermain, hingga kemampuan membina tim muda.

Setelah melalui proses seleksi yang ketat, manajemen PSIS memastikan bahwa pengumuman resmi akan dilakukan dalam waktu dekat. Klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar itu berharap pelatih baru mampu membawa tim tampil konsisten dan bersaing di papan atas Liga 1.

Kehadiran pelatih baru ini juga diharapkan mampu membentuk identitas permainan yang lebih solid, sekaligus memaksimalkan potensi pemain lokal dan muda yang dimiliki klub.



Pejabat Pemkot Semarang Akui Diperintahkan Atasan Berikan Proyek Rp 28 Miliar ke Penyuap Mbak Ita

Semarang – Kasus dugaan suap yang menyeret Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu alias Mbak Ita, kembali mencuat setelah salah satu pejabat Pemerintah Kota Semarang memberikan kesaksian mengejutkan di persidangan.

Dalam sidang lanjutan yang digelar di Pengadilan Tipikor Semarang, seorang pejabat mengaku bahwa dirinya diminta oleh atasan langsung untuk mengarahkan proyek senilai Rp 28 miliar kepada pihak tertentu yang belakangan diketahui sebagai pemberi suap kepada Mbak Ita.

Proyek tersebut berasal dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR) Kota Semarang dan diduga sudah diatur sejak tahap perencanaan. Kesaksian ini semakin memperkuat dugaan adanya praktik korupsi sistemik dalam pengadaan proyek di lingkungan Pemkot Semarang.

Pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini terus mendalami aliran dana dan peran masing-masing pihak dalam kasus ini. Selain Mbak Ita, beberapa pejabat lain juga telah diperiksa sebagai saksi maupun tersangka.

Kasus ini menjadi perhatian publik karena melibatkan kepala daerah aktif dan menyangkut dana proyek bernilai besar. Proses hukum masih terus berjalan dan dipantau keta
t oleh masyarakat.

Sepi Peminat, Puluhan SD Negeri di Semarang Buka Pendaftaran Gelombang Kedua


Semarang – Puluhan Sekolah Dasar (SD) Negeri di Kota Semarang membuka pendaftaran gelombang kedua untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2025/2026. Langkah ini diambil karena jumlah pendaftar pada gelombang pertama belum memenuhi kuota yang ditetapkan.

Sebagian besar sekolah yang belum terpenuhi berada di wilayah pinggiran kota atau daerah dengan jumlah penduduk usia sekolah dasar yang menurun. Selain faktor lokasi, persaingan dengan sekolah swasta dan menurunnya angka kelahiran turut memengaruhi rendahnya pendaftar.

Dinas Pendidikan Kota Semarang mencatat bahwa beberapa sekolah bahkan hanya terisi 5–10 siswa dari total kuota 28 siswa per kelas. Karena itu, gelombang kedua dibuka sebagai upaya untuk memenuhi minimal satu rombongan belajar di setiap sekolah.

Pendaftaran gelombang kedua dijadwalkan berlangsung mulai 27 Juni hingga 2 Juli 2025. Calon peserta didik dapat mendaftar secara daring melalui situs resmi ppdb.semarangkota.go.id atau datang langsung ke sekolah tujuan.

Pemerintah Kota Semarang terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas pendidikan negeri yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka dan ditunjang tenaga pendidik bersertifikasi.

BBPJT Gelar Sosialisasi Giat UKBI Adaptif untuk Penguatan Bahasa Indonesia


Semarang – Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang mengadakan sosialisasi Giat UKBI Adaptif pada 27-28 Mei 2025 di Aula SMPN 5 Semarang. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia di kalangan pendidik dan siswa.

Sosialisasi dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Bambang Pramusinto, serta kepala sekolah dari 40 SMP negeri dan swasta. Dalam sambutannya, Bambang menekankan pentingnya penguasaan bahasa Indonesia sebagai identitas dan alat pemersatu bangsa.

“Dengan Giat UKBI Adaptif, kami berharap kemampuan berbahasa Indonesia di Kota Semarang dapat meningkat, sejalan dengan upaya nasional dalam penguatan bahasa,” ujar Bambang.

Kegiatan ini mencakup penjelasan teknis pelaksanaan UKBI Adaptif dan simulasi tes bagi peserta. Andy Rahmadi Santoso, Kepala Subbagian Umum BBPJT, mengajak sekolah-sekolah untuk mengintegrasikan UKBI dalam program literasi. “UKBI Adaptif tidak berbayar bagi siswa, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sarana peningkatan literasi di setiap sekolah,” tambahnya.

Setelah sosialisasi, setiap satuan pendidikan diharapkan melaksanakan Giat UKBI Adaptif untuk mendorong budaya literasi yang lebih baik di lingkungan sekolah.

Pemkot Semarang Tutup Sistem "Open Dumping" di TPA Jatibarang


Semarang – Pemerintah Kota Semarang berencana menutup sistem pembuangan terbuka atau "open dumping" di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap masalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh metode pembuangan tersebut.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan bahwa penutupan "open dumping" merupakan prioritas untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. “Sistem pembuangan terbuka berpotensi mencemari tanah, air, dan udara, sehingga kami harus segera menghentikannya,” ujarnya dalam konferensi pers.

Sebagai alternatif, pemerintah kota akan menerapkan sistem "sanitary landfill", yaitu metode penimbunan sampah yang lebih ramah lingkungan. “Kami telah menyiapkan lahan untuk sistem baru ini, yang diperoleh dari hasil ganti rugi proyek Tol Semarang-Demak,” tambah Agustina.

Selain itu, Pemkot Semarang juga tengah mengembangkan program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah. Proyek ini masih dalam tahap pengajuan izin ke Kementerian Keuangan.

Agustina mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan. "Kami ingin seluruh elemen masyarakat, termasuk karang taruna, ikut terlibat dalam upaya ini agar TPA Jatibarang tidak membahayakan kesehatan," katanya.

Dengan langkah ini, Pemkot Semarang berkomitmen untuk memenuhi ketentuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang mengharuskan semua TPA di Indonesia menghentikan metode "open dumping" paling lambat tahun 2026.

Demo ODOL Semarang


Semarang – Ribuan sopir truk yang tergabung dalam Aliansi Pengemudi Independen (API) melakukan aksi unjuk rasa di Semarang pada Senin (23/6/2025). Mereka menyampaikan 17 tuntutan kepada pemerintah, dengan fokus pada revisi Undang-Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Aksi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB di Jalan Siliwangi, di mana ratusan truk berbaris lebih dari satu kilometer. Ketua API Jateng, Suroso, menekankan pentingnya pembentukan Lembaga Pengawas Independen untuk memastikan penerapan regulasi yang efektif. “Kami juga meminta pemerintah menetapkan standar ongkos angkutan barang untuk menciptakan persaingan yang sehat,” ungkapnya.

Suroso menyoroti bahwa aksi ini tidak hanya berkaitan dengan kebijakan, tetapi juga mencerminkan budaya keselamatan di sektor transportasi. Ia berharap revisi undang-undang dapat meningkatkan kualitas layanan dan keselamatan berlalu lintas.

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Tengah, Arief Sujatmiko, menyatakan bahwa aspirasi para pengemudi akan disampaikan kepada pemerintah pusat. “Kami berharap masalah ODOL dapat ditangani secara komprehensif, bukan hanya melalui penindakan di lapangan,” katanya.

Aksi damai ini menunjukkan semangat para sopir untuk memperbaiki kondisi transportasi dan meningkatkan keselamatan di jalan raya, sekaligus menegaskan pentingnya budaya kerja yang bertanggung jawab dalam industri angkutan.

Serumpun Football Championship 2025: Turnamen Sepak Bola Pelajar di Semarang

Semarang – Semarang akan menjadi tuan rumah "Serumpun Football Championship 2025," yang akan berlangsung dari 7 hingga 22 Juli 2025. Turnamen ini akan mempertemukan tim sepak bola dari siswa SMP, MTs, SMA, MA, dan KU18 se-Jawa Tengah.

Pendaftaran untuk turnamen dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama, yang berlangsung dari 16 hingga 24 Juni, dibuka secara gratis, sementara gelombang kedua dari 25 Juni hingga 4 Juli dikenakan biaya sebesar 200 ribu per tim. Hadiah menarik menanti para pemenang, termasuk jutaan rupiah, Piala Bergilir dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (KEMENPORA), serta Trophy Permanen.

Acara ini juga akan memberikan penghargaan khusus untuk kategori Best Player, Top Scorer, dan Best Coach, sebagai bentuk apresiasi terhadap performa terbaik di lapangan. Turnamen ini didukung penuh oleh PSSI Jawa Tengah dan beberapa sponsor, termasuk MILLS, yang berkomitmen untuk memajukan sepak bola di kalangan pelajar.

Wali Kota Semarang, Agustina, menyatakan bahwa turnamen ini merupakan kesempatan emas bagi generasi muda untuk menunjukkan bakat olahraga mereka. “Kami berharap acara ini dapat mendorong anak-anak untuk aktif berolahraga dan mengembangkan potensi mereka,” ujarnya.

Dengan semangat kompetisi dan kebersamaan, Serumpun Football Championship 2025 diharapkan dapat menjadi ajang yang tidak hanya mengasah keterampilan sepak bola, tetapi juga mempererat tali persaudaraan antar peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Wali Kota Semarang Apresiasi Pelestarian Tradisi Sedekah Bumi

 

Semarang – Wali Kota Semarang, Agustina, memberikan apresiasi kepada warga Kelurahan Gedawang dan Kecamatan Banyumanik yang masih setia melestarikan tradisi Sedekah Bumi atau Apitan. Penghargaan ini disampaikan saat menghadiri Gelar Budaya Apitan yang berlangsung di Lapangan Gedawang pada 10 Mei 2025.

Agustina menegaskan bahwa tradisi Sedekah Bumi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan cerminan jati diri masyarakat. "Ini adalah momen sakral untuk bersyukur kepada Tuhan atas hasil bumi dan rezeki yang diterima," ujarnya.

Wali Kota juga menekankan pentingnya pelestarian budaya dalam pembangunan kota. "Semarang bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan," tambahnya.

Dalam acara Apitan, rangkaian kegiatan dimulai dengan kerja bakti, doa bersama di makam leluhur, pengajian, dan santunan untuk dhuafa dan anak yatim. Acara ditutup dengan pertunjukan seni, termasuk Campur Sari dan Wayang Kulit, sebagai bentuk nyata pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.

Agustina mengajak generasi muda untuk aktif menjaga dan melestarikan adat istiadat lokal. "Jadilah pelaku dan penjaga tradisi ini," tegasnya. Ratusan warga turut meramaikan acara, menunjukkan komitmen mereka dalam melestarikan warisan budaya yang berharga ini.

Festival Mustika Rasa Hadir di Semarang

 

Semarang – Kota Semarang akan menghadirkan Festival Mustika Rasa pada 26 hingga 30 Juni 2025. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan kuliner tradisional nusantara, serta merayakan bulan Bung Karno.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengungkapkan dukungan penuh pemerintah kota terhadap festival ini. “Festival ini merupakan kesempatan untuk mempromosikan kekayaan kuliner Indonesia dan memperkuat rasa kebangsaan di kalangan generasi muda,” ujarnya.

Festival Mustika Rasa akan dilaksanakan di kawasan Kota Lama, menghadirkan beragam kegiatan seperti pameran kuliner, lomba memasak, dan pertunjukan seni. Salah satu highlight acara adalah lomba masak yang mengangkat resep dari buku legendaris Bung Karno, "Mustikarasa".

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Kesehatan, turut berperan dalam penyelenggaraan festival ini, memberikan dukungan teknis dan fasilitas kesehatan. Acara ini terbuka untuk umum, menyasar berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga wisatawan.

Dengan semangat untuk menghidupkan kembali tradisi kuliner yang kaya, Festival Mustika Rasa diharapkan dapat memberikan pengalaman budaya yang menarik dan edukatif bagi pengunjung.

Restoran Korea 1988 Pocha Hadir di Semarang



Semarang – Restoran Korea 1988 Pocha resmi dibuka di Jalan MH Thamrin No. 52, Semarang, menawarkan beragam hidangan khas Korea yang 100% halal . Dengan konsep vibes retro street style korea, restoran ini siap memanjakan pengunjung dengan cita rasa otentik yang menggugah selera.

1988 Pocha menyajikan lebih dari 20 varian menu, termasuk cheese potato jeon, sundubu jjigae, bomb cheese dakgalbi hanpan, dan ramyeon. Setiap hidangan dibuat dari bahan-bahan segar dan berkualitas, menjamin cita rasa yang autentik. Restoran ini berkomitmen untuk memberikan pengalaman kuliner yang aman dan nyaman bagi semua pelanggan.

Suasana restoran yang hangat dan ramah membuatnya cocok untuk dikunjungi bersama keluarga maupun teman. Selain menu utama, 1988 Pocha juga menyediakan berbagai pilihan minuman khas Korea, seperti makgeolli dan teh jagung.

Dengan harga yang terjangkau dan pelayanan yang ramah, 1988 Pocha diharapkan bisa menjadi destinasi kuliner favorit baru di Semarang. Bagi penggemar masakan Korea, restoran ini menawarkan pengalaman bersantap yang tidak boleh dilewatkan.

Semarang Night Carnaval 2025

  Warga Semarang dan sekitarnya kembali disuguhkan hiburan malam bertajuk Semarang Night Carnaval 2025, yang digelar mulai 31 Juli hingga 23...